Dreams. Faith. Fight

stasiun LRT _Kelana Jaya_Malaysia

 

Di usia enam tahun, kamu membenci mata pelajaran Ketrampilan. Kamu mendapat nilai merah di rapor caturwulan kedua, hanya karena tak bisa menjahit jelujur sampai sembilan tingkatan. Lalu ketahuan adalah buah karya mang Ari, tukang jahit keliling. Kamu berpikir, bukannya rejeki sebaiknya dibagi. Tukang jahit keliling mungkin lebih butuh rejeki yang sebanding dengan skillnya yang memang harus dihargai. Ibumu dituntut untuk datang ke sekolah pada hari Senin.

Lalu di usia delapan tahun, tepatnya di malam Jumat itu, ada kartun yang ditayangkan.

Kakakmu menikmati kartun itu, menertawakan setiap adegan lucu yang muncul. Kamu bahkan tidak bisa tertawa. Kamu hanya menonton sembari memeluk lututmu yang terasa dingin, menunggu Ayah dan Ibu pulang.

Di usia dua belas tahun, kamu menjadi gemetar setiap kali hendak membersihkan pembalut, karena kapas-kapasnya membuat kloset tersumbat. Ibumu uring-uringan menghubungi truk sedot, karena supirnya hanya bisa datang tiga hari setelah lebaran. Sang supir adalah penganut khultus ‘koplak’ komite pengarah akhlak.

Di usia tujuh belas, kamu dikecewakan  harapanmu yang terlalu besar. Ya, bodohnya dirimu adalah kamu selalu berharap besar namun kamu takut merasakan kecewa. Kamu takut menyapa orang tersebut. Ketika kamu harus bertemu dengannya, yang acap kali disebut ‘ gebetan ‘, tanganmu terasa kaku dan senyummu terasa dibuat-buat. It was sad and heartbreaking, really.. Yang terlintas hanyalah lirik lagu Sinatra :

‘Fly Me To The Moon’

Fly me to the moon
Let me sing among those stars
Let me see what spring is like
On jupiter and mars
In other words, hold my hand
In other words, baby kiss me
Fill my heart with song
Let me sing for ever more
You are
 

Ada banyak ketakutan yang kamu rasakan, bahkan sampai usiamu sekarang. Dirimu tidak henti-hentinya menghukum dirimu sendiri. Kamu memenuhinya dengan bayangan-bayangan sangat menakutkan akan “apa yang akan terjadi berikutnya?”

Lalu apa arti DREAMS. FAITH. FIGHT?? 

Now It’s wake up call..! 

Because not being an asshole isn’t enough anymore.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top