Mlaku-mbungkuk (Akhlaq Jawa)

 

Seorang teman menulis begini : 

” Ia yang pandai menjaga diri ketika sendiri seharusnya menjadi lebih pandai ketika telah menikah. Ia yang pandai menjaga perasaan orang lain, menyembunyikan perasaannya dan menumbuhkan empati kepada sesama telah mampu menjaga kehormatan diri dan saudara terutama yang  seiman.”

Menjaga, selalu bersinggungan dengan personal maupun attitude.  Menjaga adalah berusaha agar tidak terganggu. Menjaga tidak hanya berlaku sepihak, namun bisa dua pihak dan berfaedah kepada entitas luar. 

Berkaitan dengan menjaga, dengan etika jawa, ada satu kebiasaan yang hampir luntur, yakni mlaku mbungkuk. 

Dalam interaksi sehari-hari di masyarakat Jawa, orang lebih muda akan selalu membungkukkan badannya ketika sedang berjalan di depan orang yang lebih tua. Etika ini bila dilihat sepintas akan terlihat sangat sepele, namun sebenarnya etika ini menggambarkan sikap tunduk atau hormat antara orang muda terhadap orang yang lebih tua.

Perilaku orang Jawa seperti ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bertujuan untuk mengajarkan tata krama dan sopan santun kepada anak, agar menghormati orang yang lebih tua. Posisi yang dimaksudkan dengan mlaku mbungkuk yaitu, membungkukkan badan ke bawah, kemudian meletakkan satu tangan di belakang (tepat di atas pinggang), kemudian tangan yang satunya diluruskan ke bawah agak ke depan. Biasanya orang yang jalan membungkuk sambil berkata “nyuwun sewu, nderek langkung”. Saat berjalan dengan membungkukkan badan seperti ini, haruslah berjalan pelan-pelan, bukan malah berlari. Hal seperti itu adalah cara orang Jawa yang lebih muda dalam menghormati orang yang lebih tua, apabila hendak lewat di depannya. Berjalan pelan-pelan ini bukannya serba lambat, namun lebih kepada mengatur irama. Bonusnya adalah tata  krama. 

Tata krama mampu menepis serpihan bedak dan gintju untuk waktu yang lama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top