Takdir Daisy

*Tidak ada yang tidak berarti dari pembicaraan kita. Membuang-buang waktu hanya untuk bercerita adalah tujuan utama kita. Ada ikatan yang tidak terlihat yang mengatakan kalau kita harus tetap terikat setidaknya untuk sementara waktu ini.*

Seorang gadis yang baru berusia dua puluh tujuh tahun, penyuka sisa asap dari kayu bakar dan warna kuning gold akhirnya bertemu takdir barunya di depan sebuah gerbang pasar tradisional.

Saat sedang kebingungan mencari-cari kunci motornya yang terjatuh, tiba-tiba …brrukkkk seorang pria terjatuh tepat dengan pinggang melintang di depan ujung kedua sepatu ribok v67tt sportnya. 

Pelaku pemukulan hilang sekejap, menyisakan sang gadis terbelakak. Bibir mungilnya pucat pasi. 

Tetiba lupa akan kunci yang dicarinya, namun gelisah melihat ke sekitarnya.

Wajar jika jam lima subuh ini, orang-orang sedang berbelanja.

Biasanya hanya pedagang jam satu subuh tadi yang mulai beberes dagangan. sedang bulan puasa, para pelanggan  sedang berkurang jam segini.

Mereka cenderung memilih merem sebentar usai berbuka sahur dan berbelanja sore, that’s normal.

Gadis panik langsung mencari kontak teman akrab dokternya . Sial, abjadnya Y, harus turun scroll ke bawah, bawah banget.

Daisy

Diam-diam saya telah menaruh hati pada ransel itu. Biasanya pakai tas samping perempuan yang nyelip di ketek. Tapi, kali ini, agak berubahlah sedikit. Kenapa aku begitu tertarik?

Ransel ini memiliki banyak laci, ada resleting depan (front loading), nyaman dan tangguh (baca: aman). Saya juga jadi lebih nyaman nyimpen kunci motor.

Saya ingin memuat banyak benda yang berguna sepanjang saya bepergian.

Mudah menyimpan , praktis diambil kembali, lalu ditata lagi di laci-lacinya yang banyak. Ransel itu menyimpan potongan-potongan pesan yang terlewatkan begitu saja di antara kita yang tidak punya banyak waktu untuk bercerita dan menghitung rintik hujan. Namun uniknya, saat diijinkan bercerita, tidak ada yang tidak berarti dari percakapan kita.

Dimas

Di ruang opname berukuran 7×6 meter,  ada fakta yang terlontar. Seketika, air mata Daisy tumpah di sprei putih ranjangku.

Mata sembab yang memendam asa. Garis tajam pertaruhan ambisi dan sikap diri, tersambit lembut guratan. Lalu gadis itu pergi.

Daisi

Tadi pagi ketika menyikat gigi, saya tiba-tiba teringat pada malam itu. Saat Dimas tersadar dari pingsannya, pasca pemukulan di pasar. 

Senyumnya begitu manis.

Meski raut mukanya masih menyisahkan segunung pertanyaan. Ya, menurut dokter, Dimas masih mengalami trauma di kepala, semacam kelainan patologi otak.

*bersambung*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top