Okta, dua musim


 Kita berada dalam satu musim yang sama                       
  di sepanjang garis khatulistiwa dimana hanya ada 2 musim                                                          yakni KEMARAU dan PENGHUJAN. Lalu menghabiskan kemarau bersama ketika ....
hatimu dan hatiku begitu kering sementara itupun kita masih intens menyiram tanaman tropis kita..

"Maaf, tadi namamu siapa?" tanya Okta lemas. "Panggil saja Rinda."


Sepasang mata Okta itu menerawang jauh ke langit-langit kamar, begitu jauh 
seolah tatapan itu menembus langit-langit, menatap dunia di mana Rinda tak bisa memasukinya. 
Andri datang menengok, 
sembari meletakkan buah di atas bupet di sisi ranjang, 
lalu membantu Rinda menyangga punggung Okta dengan setumpukan bantal.
Tak berapa lama Okta terlelap.

*Tiga jam kemudian

Lututnya menekan lantai, mulut komat kamit, sesekali mendesah tanpa kata, 
terkadang di tengah doa ia selipkan penggalan doa 'Bapa Kami' yang sudah terhapalkan. 
Ya, sudah katam karena itu adalah hapalan selama 10 tahun setiap kali mengawali 
dan mengakhiri proses belajar mengajar di kelas sebuah sekolah Yayasan Katolik di Semarang. 
Selama empat puluh menit berlutut, akhirnya ia terlelap di pukul 2 siang hari dengan lantunan deretan lagu 
dalam album Best of Harem Scarem, Canadian Rock Band..


"Itu momen-momen yang paling saya rindukan setiap kali libur panjang SMA, Rin." 
Rindu mengintip Padma berdoa di kapel sekolah. 
"Bisa tolong ambilkan pulpen saya di laci ransel depan mbak? Maaf saya lupa.
Mbak siapa?"

"Rinda,panggil aja gitu. Boleh saya panggil kamu Okta?
Kayaknya kita seumuran deh".
             Okta mengangguk pelan.
"Iya dah kalian seumuran,gue yang tuwir!" Andri nyeletuk sambil nyengir jahil ke Rinda.
Rinda menyerahkan pulpen, wajah Okta masih datar saja. Dia kembali melanjutkan menulis


               Saat kamu terlelap, saya larut dalam indahnya mimpimu
              Lalu merasa... kala itu
            hati kita mulai basah kembali oleh gerimis.
       Kamu yang selalu berhasil memekarkan bunga lalu aku yang lebih melibatkan daun pertama yang jatuh.            Lalu kami bersatu lagi, menyiram lagi...
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Scroll to top