My Black

Terakhir kalinya liburan penuh ‘petualangan’ Dio adalah lima tahun lalu. Saat  itu bunda hampir dua bulan menjalani opname dan dilanjutkan dengan terapi di rumah selama hampir 8 bulan. Awal Februari, ketika kondisi bunda sangat membaik,  kami bertiga berlibur ke Paris.

Dio ingat betul hari kedua disana, saat teman SMA bunda dan ayah yang berdomisili di Perancis, mengajak reunian sekaligus makan siang di sebuah Restaurant yang terletak di jantung kota Paris. Akibat pembicaraan mereka yang ‘agak berat’, Dio minta ijin bunda untuk berkeliling tak jauh dari lokasi restoran  dan bunda mengijinkan asalkan tidak lebih dari setengah jam,. Itupun setelah isteri om Roy berusaha meyakinkan bunda kalau lokasinya sangat aman. Namun entah angin apa membuat Dio iseng memberhentikan bus yang rutenya enggak jauh-jauh dari pusat kota. Perkiraannya meleset jauh.

Singkat cerita, dengan perdebatan sangat tidak jelas di dalam bus, dan dengan uang 40 euro yang dibawa, Dio membayar karcis, dan diturunkan di sebuah taman Tuileries tempat jejeran museum lukisan pelukis ternama.  Dio sangat berharap ada orang yang bisa diajak berdialog dengan bahasa Inggris terbata-bata ala anak 14 tahun. Huh!

 Hampir dua jam kemudian,

“Excuse me, does anybody speak English?’ terdengar suara bapak-bapak bertanya di dekat kursi tempat Dio duduk. 

“Hah?” Dio refleks berdiri.

“Hei, Sir, yes.” alangkah senangnya Dio. 

“Y..yes. Can you help me?” tanyanya agak panik.

” Can you? can you help me?” Dio balik bertanya.

 “What?” tanya bapak itu agak bingung.

“Can you help me pak, eh sir?” Dio mengulang pertanyaan penuh harapan.

“That’s why what i just ask you. I need help. I’m lost !” Bapak berwajah agak Asia itu menjelaskan.

 “Ya me too.. lost.” Dio menjawab sambil menyalami tangannya.

 “Iam lost, mister ” Ujar Dio.

 “That’s why i was going to say.” kata Karl, pria itu.

“Kita berdua geng, sesama lost you know.!” Komentar Dio senang banget.

Sambil duduk, Dio menjelaskan kronologis ketersesatannya dengan agak terbata-bata.

“Which restaurant?” tanya Karl masih bingung.

 ” I don’t know. I get on the bus and 20 minutes later, I’m here. I just remember that the cafe is on one way road with the blue colour dominan.” Dio menjelaskan dengan percaya diri.

“That’s even worst. It’s a good thing that you didn’t get one more bus because can get more lost. If i were you, I’ll walk back  following the bus way that you get one.” Karl menjelaskan sangat detail tanpa peduli Dio paham atau tidak.

Dio dan Karl mulai dikerubungi hampir lima orang yang hanya menatap iba dan separuh bingung. Namun ada seorang gadis seumuran Dio, yang ternyata berkebangsaan Indonesia. Dia menyapa Dio dan terlibat pembicaraan ala anak usia empat belas tahun.  Leon meminjamkan spidolnya agar Dio bisa detail menggambarkan ciri-ciri restoran di salah satu lembar kertas buku tulisnya.

Dio sudah tak lagi menggubris Karl.

Dia lebih tertarik menjelaskan ciri-ciri restoran pada gadis belia yang kelihatannya adalah salah satu rombongan pelajar yang berkunjung ke museum. Di sela-sela pembicaraan Dio dan Leon, si gadis tersebut,  terdengar suara bunda. Ya, thanks God, itu suara bunda. “Dioo, kesini nak, kami mencarimu. Untung mantel merahmu menjadi identitas unikmu diantara keramaian ini.”

Belum selesai bunda berbicara, Dio gembira dan segera berlari menghampiri bunda serta seisi mobil sedan milik om Roy. Hanya spidol hitam Leon yang masih dalam genggamannya.

 

Sembilan tahun kemudian,

Kampus Nusatiga,

Dio diwisuda. Prosesi yang berjalan khitmad, alunan paduan suara dengan kumandang lagu kampus sedunia-Gaudeamus yang membuat bulu kuduk para wisudawan beserta keluarga dan seluruh civitas akademika merinding mendengarnya. Wisudawan mengucapkan janji yang untuk pertama kalinya membuat Dio sadar bahwa titel kesarjanaannya menanggung kewajiban untuk mendharmabaktikan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat. Setelahnya, perang tak terelakkan. Lemparan air mendarat di jubah, wajah, dan sanggul. Wisudawan yang tak berbekal mesiu berusaha merebutnya dari adik-adik angkatan lalu berlari ke kamar mandi mencari ember untuk menyerang balik atau bertahan dengan tangan kosong yang berujung ajang baku hantam. Hal itu tak berlangsung lebih dari setengah jam untuk kemudian saling tertawa, berangkulan dan mempererat hubungan antar angkatan karena esok hari sudah berganti profesi.

Saat keluar dari toilet, Dio berpapasan dengan gadis yang tiba-tiba memandang lekat-lekat spidol yang jatuh dari saku kemejanya.

“hmm, darimana kamu dapat spidol itu?” tanyanya penasaran.

“Oh, Sembilan tahun lalu, dari seorang gadis belia di taman Tuileries.kenapa?” jawab Dio

“Pengen tahu aja, itu sepertinya spidol langka. Coba dicermati lagi, apakah ada inisial di lingkaran dalam tutupnya? Apakah benar inisialnya LD?”

Dio dicecar pertanyaan namun dengan leluasa menguasai situasi, menutupi kecanggungannya berhadapan dengan gadis muda, simpatik dan semampai.

“Kamu benar.inisial LD”

“Itu saya, Leonraid Danaputra.” Ujar gadis itu dengan tatapan hangat.

Dalam hati Leon, senangnya luar biasa. Ada juga pemuda yang menyimpan benda pribadinya dengan sangat telaten.

“ Lho, kamu??”kok..bisa..”tanya Dio dengan dua telunjuk mengarah pada gerbang koridor utama kampus.

“Ayah mertua saya rektor kampus ini. Saya datang untuk menjemputnya.”

Dio hanya mengangguk datar.. “baiklah, ayah mertuaaa, hmm”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top