Silver Rainbow

Tariannya yang agak genit cukup berbanding terbalik dengan sikapnya saat bertutur dalam doa. Lutut Sadi menekan lantai, mulut komat kamit, sesekali mendesah tanpa kata, terkadang di tengah doa, ia selipkan penggalan doa ‘Bapa Kami’ yang sudah terhapalkan.

Ya, sudah katam karena itu adalah hapalan selama 6 tahun setiap kali mengawali dan mengakhiri proses belajar mengajar di kelas sebuah sekolah Yayasan Katolik di Semarang.

Selama empat puluh menit berlutut, akhirnya ia terlelap di pukul dua siang hari dengan lantunan deretan lagu dalam album Best of Canadian Rock Band. Lalu terbangun.

Gumpalan darah lagi. Apakah aku harus menjadikan pil KB ini sebagai ‘kambing hitam’ saja ? Oh Sadi, sayangi dirimu.

Aku,Leon, dua puluh tahun lalu, terlahir sebagai premature yang menurut ibu tiriku, hal itu adalah bentuk aborsi atas saran si mbok yang kala itu masih duduk di bangku kelas dua SMKK.

Bapakku, pemuda keturunan Aceh Bengkulu, yang katanya mau bertanggungjawab namun ditolak mentah-mentah oleh eyang kakung dengan alasan bibit bebet bobot. Bayi Leon yang sedang dibedong di ruang bayi rumah sakit swasta di Bandung 23 tahun yang lalu, kemudian ditinggal pulang ibunya dan terkubikal dalam kotak inkubator selama dua minggu.

Pantas aja saat balita kulitku hampir hitam legam, mungkin terlalu lama ‘terbakar’ di bawah lampu neon 5 watt.

Kutatap wajah lonjong bertatahkan rambut semi ikal sebahu yang tebal. Aku sengaja berpuasa dan berniat membuat deal denganNya, agar Tuhan mengantarkan mas Bayu kepadaku atau setidaknya mengabari.

Dia tidak lagi mengabariku seakan lupa bahwa hampir 6 tahun hidup bersama dalam paviliun ‘berjendela banyak’ kebanggaan kami.

Ahhh, jangan tanya nafsu yang membuncah setiap kali selepas berciuman.

Aku sendiri sangat menikmati gairah birahi yang selalu tersalurkan bersama mas Bayu.

Hanya dia, bukan karena dia telah memperawaniku saja, namun juga karena dia terlalu romantis dalam kesetiaannya. Pil-pil kb mulai kukonsumsi hampir enam tahun ini pun tanpa takut ancaman beresiko kanker serviks.

Setahun setelah memutuskan untuk meninggalkan Charles dan akhirnya menerima mas Bayu menjadi kekasihku, imajinasi liar sangat memotivasi untuk terjun langsung ke hal-hal baru.

Toh bapak sudah tiada juga, dan mama Sally jauh di Bandung.

Pagi itu, sebuah keberuntungan besar yang kudapatkan saat itu pagi hari sebelum kami pertama kali bersenggama, yaitu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan batubara, meskipun awalnya hanya sebagai helper. Namun dari sinilah awal jenjang karirku, meskipun hanya lulusan SMA, namun akhirnya  setelah 4 tahun bekerja, President Director perusahaan itu mempercayakan jabatan HRD manager kepadaku menggantikan manager sebelumnya yang dipensiunkan dini karena penyakit struk yang dideritanya.

Jabatan sebagai seorang manager di sebuah perusahaan berskala internasional tersebut tentunya memberikan perubahan yang cukup besar bagi kehidupan ekonomiku dan keluarga.

Bahkan aku menggiring mas Bayu untuk ikut menjadi sekretaris pribadiku yang sering keluar kota untuk urusan pada anak-anak cabang perusahaan.

Sayangnya bapak belum sempat menikmati jerih payahku bahkan sampai kemapananku.

Kadang aku tidak terlalu memikirkan ibu kandungku, mama Sadi. Aku masih dendam.

Di usia kehamilanku yang sudah 28 minggu, Mas Bayu tak kelihatan batang hidungnya.  

Sudah 2 minggu tak ada kabar dari mas Bayu semenjak tugas luar kotanya di Surabaya berakhir sekitar empat bulan lalu.

Empat bulan itu juga aku mengambil cuti kehamilanku, di samping juga menghindar cemoohan bawahanku tentang manager yang hamil di luar nikah, bukan suri tauladan yang baik, dan masih banyak lagi. Saat bayi perempuan cantikku lahir, aku langsung memutuskan keluar dari pekerjaan lamaku dan merantau di Jakarta dengan bekal referensi kerjaan lama.

Aku memulai kehidupan baru, tempat tinggal baru bersama seorang pembantu yang telaten mengurusi bayi Mary.

Aku juga mengganti nama sebagai identitas diri bahkan sampai di notaris selama masih di Semarang.

Aku bertekad, anak ini takkan kekurangan suatu apapun bahkan perhatian skala seorang ayahpun akan kuusahakan tercukupi.

Dengan modal kecakapan dan penampilan fisik yang kata mereka bak model, aku mulai merambah dengan profesi asisten CEO Central Technology. Bosku itu yang akhirnya menikahiku dua tahun kemudian.

Namun enam bulan lalu, bayiku, Mary dan ayah tirinya mengalami kecelakaan mobil saat liburan ke puncak.

Aku kehilangan dua malaikat hidupku.

Begitulah kisahku, Leon.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Scroll to top