Tanpa huruf R

Setiap orang akan sampai di masa: berhenti mengandalkan kekuatan sendiri 
dan menyerah kepada kekuatan yang lebih besar darinya. 
Entah mengapa sehari menjelang paskah, saya mengingat lagi film berjudul 
novel tanpa huruf R,
      saat Drum kehilangan pegangan......
Dalam filmnya, Aria Kusumadewa ingin mengusik ingatan penonton tentang 
pelbagai peristiwa yang menjadi sejarah hitam negeri ini yang akhirnya menorehkan luka mendalam 
pada seorang anak manusia..
Ya anak manusia, bukankah untuk itu nabi Isa hadir di bumi?
Dikisahkan sebuah keluarga yang terpaksa melarikan diri dari kampungnya akibat difitnah 
sebagai pengikut sebuah organisasi terlarang. 
Sayang, di tengah perjalanan sang ibu terjun ke laut 
dan hilang. 
    Tinggallah Badar (Otig Pakis) bersama putra tunggal mereka, Drum.

Di kampung baru, Badar berhasil merintis usaha penjagalan hewan 
dan hidup bahagia bersama Drum dansaudara angkatnya yang bisu, Talang (Faisal Kamarullah). 
Namun, tepat di hari ulang tahun ke-17 Drum(Agastya), 
Badar tewas tertabrak mobil. Drum kemudian tumbuh menjadi seorang wartawan kriminal di Jakarta.
Berbagai peristiwa menyedihkan berganti-ganti menghantam Drum. 
Mulai dari pacarnya Fa (Fahrani) yang ternyata lesbian, 
ditambah keseharian Drum menyaksikan berbagai pembunuhan brutal 
membuat dirinya gamang. Puncaknya, saat kekasih barunya, Angel (Angela Anggraini) 
yang keturunan Tionghoa, tewas mengenaskan dalam sebuah huru-hara di Vihara Buddha. 
Arti kehilangan Drum menjadi lengkap.
Drum menggugat hidup dan keberadaan Tuhannya. Ia kemudian menyendiri ke sebuah rumah 
di tepi pantai.
Drum meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih 

menjadi penulis novel kisah-kisah kriminal, Kejet-kejet.
Tak disangka Kejet-kejet laku di pasaran dan menarik 
minat Air Sunyi (Lola Amaria), seorang mahasiswi sastra yang berminat menulis Kejet-kejet sebagai 
bahan penulisan skripsinya. Gadis ini mengkritik Drum karena 
tulisannya tentang kekerasan dinilai terlalu vulgar dan meracuni moral masyarakat.

Bukannya marah, Drum malah mengundang Air ke rumahnya. 
Tanpa disadari, kehadiran Air kembalimengguncang trauma kehilangan dalam dirinya yang labil. 
Ujung-ujungnya, Drum menyandera Air untuk mengisi ruang pencarian jiwanya. 
Dalam penyanderaan ini, Air berontak dan berhasil menggigit salah satu jari telunjuk Drum
...sehingga ia tak bisa mengetik huruf r.

***


Aku ingat, pada akhir film itu aku menarik nafas dalam-dalam, 
memejamkan mata lalu menghembuskannya lagi perlahan-lahan..
film itu ditonton seminggu sebelum paskah kala itu.

Sampai di sini saya teringat, teman saya pernah menulis seperti ini: kehilangan adalah 
perjalanan untuk menemukan. Dan menemukan adalah perjalanan untuk kehilangan. 
Seperti sinar bulan. Ketika menemukannya kita pun harus siap untuk kehilangannya.
Begitupun ketika kita kehilangannya, kita harus siap-siap untuk menemukannya.. l
alu memulai dari nol, mencarikasihNya, kasih Bapa.. 


Selamat Paskah, selamat mendoakan sesama. 
mulailah memikirkan yang tidak masuk akal.... 
JIKA SEMUANYA MASUK AKAL, DOA BISA HILANG KUASANYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top