Teriyaki-Nasi Uduk

      Kedua kembar ini agak sukar untuk menjadi akur, langka memang.  Namun saat melahap nasi uduk Mbok Satem, kedaulatan keakuran menjadi hak totalitas mereka. Bisa jadi karena dua-duanya doyan nasi uduk, laper banget atau harga terjangkau dengan ornamen porsi kuli. 

 

      Suatu sore yang mendungnya satu level lebih rendah gelapnya dibanding warna kulit pekat Dangdang, nama anak tetangga beda tiga rumah, dekat portal gang mercon yang usilnya minta ampun. Teri berbunga-bunga saat Nila, kakak kelasnya berkunjung ke rumah. Binar-binar keceriaan terpancar jelas di wajahnya, bahkan kilau terang lampu pijar Philaps yang sangat mengindonesiapun, bisa gulung tikar jika ketahuan ada kompetitor dadakannya.

“Ma… Taka jalan dulu ya, nanti sampaikan ke papa juga ma.”

“Iya, hati-hati nak..!” Balas nyonya Yanti sangat pelan.

 “Tolong jaga rumah ya manyun, goda Yaki pada Teri. Kotak wafer melayang tipis hampir kena bahu kiri Yaki, yang langkah dibuat seperti habis menang lotere.  

Warna muka Teri berubah saat…

“Ter, Yaki ada gak?” tanya Nila sambil tetap memeluk kertas spektra dan tas kertas kecilnya.

“Ada kok. di kamarnya” jawab Teri sambil melangkah ke arah kamar.

“Tapi ada apa sih Nil, kok nyari Yaki?” sambil menggedor pintu kamarnya dan Yaki.

Nila tidak menjawab, dia sibuk membuka tas kertasnya.

“Dicariin Nila, Ki!” teriak Teri.

“Hallo. ada apa Nila?” tanya Yaki setengah mengantuk. 

“Yaki, kamu bantuin ngajarin aku bikin scrapp book dong. Mau ya..” pinta Nila sambil duduk di sofa ruang depan.

 “Menurut papa, saat semalam aku skype, ada lomba scrapp.” Yaki tenang mendengarkan.

Teri sengaja mengambil komik dari keranjang bacaan, padahal komik itupun sudah 24 kali dibacanya, terakhir, setahun lalu. Wajahnya lempeng, tak bersemangat.

Lomba Scrapp book yang  dikhususkan bagi pelajar berusia 8-13 tahun. Jarang-jarang kan?”

“Iya, bener.” jawab Yaki singkat

“Nah ki, kamu kan jago ketrampilan scrapp book. Kamu mau ngajarin aku? papaku sedang tugas luar kota, jadi nggak bisa ngajarin.”

“Mama kan sibuk sama adik bayi.” pinta Nila.

“Boleh. Mana aku lihat peralatanmu..”

“Oh, dah lengkap nih. Tapi kertasnya mesti dijilid.”

“Di depan gang ada tempat fotocopyan yang masih buka. Yuk kesana!” ajak Yaki.

Nila mengangguk bersemangat.

“Ma… Yaki jalan dulu ya, nanti sampaikan ke papa juga ma.”

“Iya, hati-hati nak..!” Balas nyonya Yanti sangat pelan.

 “Tolong jaga rumah ya manyun, goda Yaki pada Teri. Kotak wafer melayang tipis hampir kena bahu kiri Yaki, yang langkah dibuat seperti habis menang lotere.

Sampai di ujung perumahan, ternyata portal sedang digembok. Nila dan Yaki harus memutar jalan. Sepuluh meter dekat tempat penyeberangan, ternyata warung nasi uduk mbok Satem masih kelihatan buka. Yaki berlari mendekat.

“Mbok, mau beli” 

“Ya nak Yaki, berapa. eh tapi sisa satu saja lho.”jawab mbok Satem. 

“Ya mbok, satu aja, biar yang dibeliin nggak manyun lagi.” jawab Yaki sambil membayangkan wajah Teri, kembarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Scroll to top