Teriyaki-Yaki In Love;Teri Part Time (bagian1)

San Fransisco

 

Apakah aku terlalu cepat datang disini ya?”gumam Sava.

Seseorang menepuk pundaknya lembut, lalu menggandeng tangannya menggiring masuk ke sebuah ruangan, lengkap dengan pemandangan studio yang menawan di tengah kota San Fansisco. Lelaki kulit terang bewajah tirus agak sipit itu adalah kakak kelas Savana.

Ya, Savana adalah adik kelas Yaki yang merupakan satu-satunya siswi kelas berkebutuhan khusus. Dan yang boleh bersekolah di sekolah ‘umum’. Ibunda Savana adalah salah satu founder yayasan yang mendanai sekolah swasta menegah pertama ini. Savana sendiri sejak umur tiga tahun mengalami gangguan sistem saraf.

Namun kehidupan telah mengajarkannya kecermatan kekuatan terapi yang bahkan mengalahkan obat-obatan kimia yang hampir disesapinya setiap hari sejak divonis terbatas dalam berbicara, lalu dosis obat bertambah saat usianya 11 tahun. Namun saat menginjak usianya 12 tahun, ada terapi khusus dari dokter spesialis rehabilitasi medik teman ibunya, yang menggiatkan ini sampai pendengaran Savana mendekati 90% normal dalam waktu 9 bulan. Itu mengakhiri konsumsi obat-obatan dalam diri Savana.

Savana, sahabat karib Yaki, sangat bersahaja, enerjik dan selalu ceria, walau sudah kehilangan sosok ayah. Menurut cerita kakeknya yang saat ini tinggal serumah bersama ibunya, ayah Savana tak penah kembali lagi ke San Fransisco sejak bayi Sava berusia tujuh bulan.

Bahkan sampai hari ini, beliau, sang ayah, belum menandatangani surat gugatan cerai nyonya Lay, ibunda Sava. Sang kakek memang selalu terbuka dalam hal apapun terhadap cucu kesayangannya ini.

Profil wajah dan dagu Savana, gadis belia berusia sebelas tahun ini jelas-jelas terlihat ideal, sebelum akhirnya berbaur dengan siluet tenggorokannya, sempuna ! Putra, sang fotografer puas dengan hasil kerja Savana. Yaki, asisten Putra meneranginya dari belakang siluet tubuh bagian atas Savana terlihat sangat kontras dengan cahaya terang di belakangnya.

“Savana sangat berbakat…”gumam Yaki.

 

Jakarta

Derap langkah dipercepat, hujan kian deras.

Ayah, maafin Teri hanya 10 menit di depan pusara, nanti kita lanjut lagi ya.

Serta merta skuter matic futuristik silver digas, dan berlalu dari Kompleks Ereveld Kalibenteng. Saat lampu merah, dari balik plastik yang tergantung di dekat setir, tiga botol selai cokelat Geheimnis agak amburadul posisinya, hmm tidak masalah sih selama tidak retak aja. 

Hujan semakin deras, Teri berbelok ke arah stasiun KRL Tanjung Barat, di depan toko oleh-oleh Berkah, memarkirkan skuter dan mencari mantel polkadot ungu tua yang agak norak lalu melipatnya rapih, dan dihempas ke dalam ranselnya.

Sialnya, hampir sejam berlalu kereta tak kelihatan batang hidungnya.

“Waduh, gue bisa telat nih buat audisi part timer  koki di kedai seafood Kong Ahing.” gerutu Teri.

Penumpang mulai geram. Sekitar puluhan orang menggedor-gedor ruangan kepala stasiun. Di tengah situasi mencekam, kepala stasiun Kota lewat kolong meja kerjanya.

Sial, tak satupun jawaban diterima. Dengan cemas ia mengontak ponsel pak Arif, sang masinis.

“Rif, lo dimana?? Tolongin gue. Berangkatin satu kereta lagi ke Tanjung Barat. Penumpang ngamuk!! Ude hamper dibakar nih stasiun” jelas kepala stasiun.

“Bos, mana ada kereta jam segini?” Arif panik.

Lalu dengan tergopoh-gopoh menjalankan kereta tak berjadwal, demi keselamatan umat dan warga stasiun.

*Satu jam lima belas menit kemudian…

“Maaf kong, tadi ada kecelakaan kecil.” Dengan nafas terengah-engah, Teri menjelaskan duduk perkara.

Teri ternyata diterima untuk part time. Gajinya lumayan untuk tambahan jajan dan membeli gitar baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top