Those who know don’t speak. Those who speak don’t know [1]

DSCF0909Sejarah fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1857, pada saat 2 orang juru foto Woodbury dan Page
membuka sebuah foto di Harmonie, Batavia. Teknologi kamera pada itu hanya mampu merekam gambar yang statis,
karena itu kebanyakan foto kota hasil karya Woodbury dan Page terlihat sepi 
karena belum memungkinkan untuk merekam gambar yang bergerak.
Studio fotopun semakin ramai di Batavia. Dan kemudian banyak fotografer professional maupun amatir 
mendokumentasikan hiruk pikuk dan keragaman etnis di Batavia.
Terlihat bahwa pedagang dan pembelinya beraktifitas membelakangi sebuah layar,
ini karena teknologi kamera masih sederhana dan masih riskan jika terlalu sering dibawa kemana-mana.

Lalu bagaimana dengan komunitas foto?

Di Indonesia, khususnya jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, 
tidak tertera berapa jumlah seluruhnya organisasi fotografi amatir, diantaranya :
  1. GAPERFI
   adalah Gabungan Perhimpunan Seni Foto Indonesia yang didirikan tahun 1953, 
   dengan ketuanya Mayor R.M. Soelarko.
GAPERFI  adalah sebuah perhimpunan dari berbagai Klub Foto pada awal berdirinya
di tahun 1953, memiliki anggota 7 Klub Foto. Pada tahun 1956 jumlahnya telah 
          membengkak menjadi 13 Klub Foto yang berasal dari seluruh Indonesia. 
Tanpa menemui halangan yang berarti, GAPERFI yang telah berhasil melakukan dua kali kongres 
pada tanggal 28 – 30 Oktober tahun 1955 di Semarang dan pada bulan Juli 1956 di Bandung, 
adalah murni merupakan gabungan dari seluruh perkumpulan atau klub foto di seluruh Indonesia.
  1. PAF BANDUNG
adalah Persatuan Amatir  Foto (PAF) Bandung yang jaman penjajahan kolonial Belanda 
yang berdiri pada tanggal 15 Februari 1924, jauh sebelum Perang Dunia II,  
adalah sebuah Klub Foto Amatir pertama dan tertua di Indonesia. 
PAF menjadi anggota GAPERFI pada tahun 1954.
Pada tahun 1967 PAF menerbitkan buletinnya yang dikenal dengan nama “Bulletin PAF”, 
dicetak dalam bentuk stensilan. 
Diterbitkan guna memenuhi kebutuhan anggotanya akan informasi dan pengetahuan tentang fotografi.
Dalam sejarah Fotografi di tanah air, PAF Bandung mempunyai peran utama 
sebagai pencetus gagasan dan motor penggerak yang akhirnya melahirkan
       “FPSI” pada tahun 1973.
  1. LFCN
   Disamping PAF Bandung, ada lagi sebuah Klub Foto yang juga tergolong tua (nomor 2) di tanah air kita,
   yaitu Lembaga Fotografi Candra Naya (LFCN) yang didirikan pada tahun 1948 – 
   saat itu bernama “Sin Ming Hui”. Klub Foto Candra Naya (dh.Tjandra Naja) 
   merupakan salah satu bagian kegiatan dari sebuah Lembaga yang bergerak dalam 
   berbagai bidang pendidikan dan sosial
  1. MAJALAH FOTO INDONESIA
    Dari sebuah gudang pribadi tempat penyimpanan arsip lama dan buku-buku tua, baru-baru ini
    diketemukan majalah foto terbitan tahun 1934 dengan nama “De Indische Foto wereld”.
    Terjemahan bebasnya kira-kira adalah Dunia Foto Indonesia.
    
    Majalah foto yang dicetak prima dan menggunakan sampul depan itu memuat tulisan dan
    foto-foto Indonesia  tempo doeloe. Dimana pada saat itu telah terbit dalam 2 bahasa,
    yaitu Belanda dan Melayu. Ini adalah majalah fotografi tertua di Indonesia.
  2. PEMBENTUKAN SEKRETARIAT BERSAMA
    Pada tahun 1970-an sekelompok penggemar fotografi yang memiliki idealisme dan kepedulian tinggi terhadap
    perkembangan dunia fotografi di tanah air, telah melahirkan gagasan
    untuk membentuk suatu wahana yang dapat mengakomodasikan seluruh kegiatan foto di tanah air.
    Tujuannya tidak sekedar untuk penyaluran hobi atau berekreasi saja, tetapi lebih dilandasi
    pemikiran yang berwawasan jauh, luas serta mendalam. Yaitu suatu keinginan untuk
    menjadikan Fotografi Indonesia, dengan segala dinamika dan romantikanya,
    menjadi bagian dari Keluarga Foto Internasional sekaligus mengangkat citra Indonesia.
    
    Karena sudah tidak tahan lagi, segera disusun dan dibuat beberapa kali pertemuan.
    Akhirnya tercapai kesepakatan untuk membentuk sebuah komite yang bersifat sementara
    dan dinamakan “Sekretariat Bersama” (SB). Dimana tugas SB ini
    adalah menghubungi dan mendaftar semua Klub Foto yang ada di Indonesia
    untuk bergabung dan melaksanakan Musyawarah Nasional guna pembentukan sebuah wahana foto nasional.
  3. FPSI
    Akhirnya, setelah melalui serangkaian kerja keras, pada tanggal 28-29 Desember 1973 SB 
    yang mengkoordinir perkumpulan-perkumpulan Foto se Indonesia menggelar Musyawah Nasionalnya
    selama dua hari bertempat di Taman Ismail Marzuki – Jakarta
    
    Munas yang dihadiri oleh 8 Klub Foto dari seluruh Indonesia itu
    (sisanya membuat pernyataan mendukung – apapun hasil Munas),
    akhirnya melahirkan sebuah wahana foto nasional yang bernama,
    Federasi Perkumpulan-perkumpulan Senifoto Indonesia atau disingkat FPSI dalam bahasa Inggrisnya
    Federation of Photographic Societies Indonesia.
    Sekaligus mengangkat Ketua-nya yang pertama, yaitu Prof.DR.R.M.Soelarko dan Wakil Ketua A.Muhamad dengan               Bendaharanya Djohan Tirdjaja.
    Dengan lahirnya FPSI yang merupakan puncak kegiatan dan prestasinya, otomatis SB yang bersifat                   sementara dan sudah bekerja maksimal dan optimal selama 2 tahun itu kemudian dibubarkan.
  4. SALON FOTO INDONESIA I (1973)
    Salon Foto Indonesia I (1973) berlangsung bersamaan dengan Musyawarah Nasional                                 yang melahirkan FPSI, bertempat di Taman Ismail Marzuki juga (untuk umum).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top